Guest Post: Bzee's Reading Tips and Trick

Seperti yang sudah kalian ketahui, dalam rangka merayakan hari ulang tahun BBI, kami mengadakan guest posting. Apa itu GP? Intinya sih ada blogger lain yang menulis postingan di blogger lainnya. Kebetulan, kali ini tamuku adalah mbak Bzee.

Selamat datang, mbak Bzee! Buat yang belum tahu tentang mbak Bzee, silakan mengunjungi blognya ya di www.bacaanbzee.wordpress.com/

Monggo dimulai ceritanya, Mbak :)

----------Guest Post----------

Saya tidak menyangka bakal menjadi ‘tamu’ di blog Phie yang ‘penuh cinta’ ini. Awalnya saya bingung mau menulis apa, jelas saja bacaan Phie jauh berbeda denganku, begitu pun (mungkin) pengunjung setia blog Phie ini. Oleh karena itu, saya berpikir untuk menulis kesamaan kita secara umum: membaca.


Sejak masuk ke komunitas yang mempertemukanku dengan Phie, yaitu Blogger Buku Indonesia, saya melihat berbagai macam karakteristik pembaca, khususnya jenis bacaannya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan jenis bacaan tertentu, selama pembacanya merasa nyaman dengan apa yang dibacanya, merasa terhibur, dan mendapatkan manfaat darinya. Namun bagi yang ingin mencoba-coba bacaan di luar genre yang biasa dibacanya, saya akan berbagi sedikit pengalaman dan pengamatan.

Sebenarnya tips dari saya cukup sederhana: coba-coba. Yep, kalau tidak dicoba kita tidak akan pernah tahu kan. Tapi kalau mau dipanjangkan, ini sedikit analisis sok tahu saya.

Pertama, identifikasi dulu apa yang menjadi tujuan membaca buku tertentu. Ada yang membaca untuk mengisi waktu, ada yang membaca untuk melepas kepenatan, ada yang membaca sebagai pengisi jiwa, ada juga yang membaca untuk mengembangkan dirinya.

Yang kedua adalah mengenali selera sendiri. Keduanya jika digabungkan akan menjadi sesuatu yang unik. Contoh, untuk tujuan yang sama, A akan mengisi jiwanya dengan buku-buku motivasi dan self-help, sementara B mungkin lebih memilih buku-buku Paulo Coelho untuk itu, sedangkan si C hanya akan mendapatkan manfaat itu dari membaca kitab suci. Begitupun buku dari genre yang sama, belum tentu memberi manfaat yang sama bagi orang yang satu dengan yang lain. Misalnya genre romance yang bagi banyak orang dianggap ringan dan menghibur, sementara saya terkadang malah stress membacanya.

Mengapa? Karena saya sudah mengenali bahwa saya tidak cocok dengan sesuatu yang terlalu utopis (bersifat khayalan, berupa khayalan), hal-hal yang biasanya dijual dari novel romance tertentu.

Untuk bisa mengenali kedua hal di atas, hal paling mudah untuk dilakukan adalah mencoba. Beri suatu genre itu kesempatan, saat kita sudah mengenalinya, kita akan bisa memutuskan apakah genre itu akan masuk dalam daftar baca kita, ataukah hanya dalam waktu dan situasi tertentu yang mendukung, atau tidak sama sekali. Semakin banyak yang kita coba semakin baik. Setidaknya suatu saat, ketika dihadapkan pada buku baru, atau pada setumpuk buku yang diobral, kita bisa menentukan buku mana yang akan kita beli dan baca, dan buku mana yang akan kita singkirkan atau tunda. Semakin kita banyak membaca dari banyak jenis bacaan, semakin kita tahu bahwa banyak sekali buku-buku di luar sana yang menarik untuk digali. Di antara yang sekian banyak itu, tentunya tidak mungkin kita bisa membaca semuanya—kecuali jika kita memiliki kecepatan baca super.

Selain mencoba, bisa juga kita meminta rekomendasi kepada orang-orang yang kita ketahui seleranya. Saya sendiri, jika ingin membaca buku dengan genre A, untuk melihat apakah buku tersebut patut dicoba atau tidak, saya akan membaca review dari orang-orang yang menyukai genre A, karena referensi mereka pasti lebih banyak. Sedangkan untuk masalah apakah buku itu kira-kira bakal saya sukai atau tidak, maka saya akan melihat review dari orang-orang yang selera bacanya sama atau mirip dengan saya. Oleh karena itu, saya sudah memiliki ‘catatan’ tersendiri, siapa-siapa saja yang reviewnya akan saya gunakan sebagai pertimbangan untuk membaca suatu buku.

Untuk pengunjung setia blog Phie, mungkin sudah tahu kalau Phie pernah mencoba-coba sebuah buku klasik, To Kill a Mockingbird, dan ternyata dia suka. Padahal buku itu tidak ada cinta-cintaannya sama sekali. Memang menurut saya buku itu sangat bagus, sarat dengan muatan kemanusiaan, dan memberi sudut pandang yang lain tentang karakter-karakter manusia. Saya pun pernah membaca buku yang lumayan kental romansanya, remaja pula, Ruby Red, dan suka. Saya sendiri heran karena saya bisa menikmatinya, bahkan relatif cepat selesainya. Jadi, jangan takut untuk mencoba hal baru. Mungkin ada pengecualian, atau mungkin ada ‘warna’ lain yang bisa kita kenali jauh di balik genre.


----------Interview----------
Mbak Bzee, sejak kapan dan kenapa sih suka baca buku?
Sepertinya sejak mengenal huruf aku sudah suka baca, mungkin karena (seingatku) aku dikelilingi buku-buku bagus waktu kecil. Untuk alasan pastinya aku ga yakin juga. Bahkan dulu aku mengalami masa dimana semua kertas bertulisan akan kubaca, meski itu selebaran ga penting. (toss sama donk kayak aku... Aku juga sejak kecil baca sama oma, baca koran >,<)

Biasanya baca genre apa dan kenapa?
Sebenarnya genre bacaanku termasuk luas sih, aku suka baca sastra klasik, children's literature, sastra kontemporer, fantasi, misteri/detektif, science fiction, realistic fiction, buku-buku inspirasional atau filosofis macam Paulo Coelho, juga science populer, tapi sayangnya aku malah ga begitu menikmati baca genremu, Phie, romance(Apaaahhhh?? Kenapaaaa?? #lebay) 

Kenapa? Karena aku suka mendapatkan informasi dan hal-hal yang baru dari membaca.

Kalau buku-buku nonfiksi mungkin jelas ya, sedangkan untuk fiksi, hal-hal yang baru itu bisa berupa suasana kebudayaan, karakteristik manusia, atau bahkan imajinasi paling gila yang bisa dipikirkan oleh penulis (Phie mulai curiga bahkan pembacanya aka mbak Bzee juga menjadi gila. Hahahahaha... #abaikan).

Aku suka konflik yang 'real' berdasarkan sudut pandangku, termasuk konflik psikologis dan ideologis. Di dunia nyata pun aku ga suka 'drama' percintaan, sukanya praktis-praktis aja, iya atau tidak, hahaha.

Apa sih kenangan paling menyenangkan yang berkaitan dengan buku yang pernah dialami mbak Bzee?
Kenangan menyenangkan, salah satunya adalah saat aku menyadari bahwa buku tertentu memang ditakdirkan untuk bertemu pembacanya. Waktu itu sebelum aku kenal teman-teman BBI, aku berada di sebuah sale buku, aku menemukan buku Neverwhere tergeletak sendiri di antara buku-buku nonfiksi. Saat itu aku belum kenal Neil Gaiman, cuma pernah dengar, juga baru nonton 2 film yang diangkat dari bukunya (itu pun yg kedua aku baru tahu belakangan).

Instingku menyuruhku mengambil buku itu. Tanpa kusangka, dengan membaca buku itu aja aku langsung jadi fans om Gaiman. Buku itu pertama dan terakhir kalinya aku lihat di toko buku, begitupun beberapa bukunya yang lain seperti Coraline yang kutemukan sekali di toko buku yg sudah lama 'terbengkalai'. Pokoknya merasa beruntung banget menemukan buku itu, karena pada akhirnya aku menemukan satu lagi penulis yg kufavoritkan dan karyanya selalu kutunggu dan kuburu.

Kalau kenangan terburuknya?
Kenangan terburuk, ada waktu kuliah. Jadi waktu itu kakak tingkatku minta pinjam bukuku untuk temannya. Sebenarnya aku juga kenal temannya itu, makanya kupinjamkan buku teks yang masih baru, bahkan belum kubaca karena aku belum ambil mata kuliahnya. Satu semester kemudian, aku tagih bukunya dari kakak tingkatku.

Setelah dikembalikan, bukuku sudah tak karuan bentuknya, bekas kehujanan, keriting dan kotor, terutama di covernya. Kakak tingkatku sudah menawarkan ganti, tapi karena aku tahu bakalnya dia yang mengganti --bukannya yang merusak-- jadi kutolak. Akhirnya buku itu kusampuli dengan kertas kado, dan setiap baca buku itu pasti ingat sakit hatiku terhadap peminjam buku itu.

(#pukpuk mbak Bzee. Aku tahu perasaan itu, Mbak...)

Apa hal yang paling mbak Bzee syukuri sejak mengenal buku?
Hal yang paling kusyukuri adalah saat aku KEMBALI ke dunia buku. Sejak kuliah, rasanya buku di dunia ini cuma buku teks dan buku teks. Setelah lulus, mengenal goodreads, kemudian bergabung ke BBI, adalah saat aku kembali ke dunia buku.

Aku bersyukur bertemu teman-teman melalui buku, terutama teman-teman BBI yang sudah seperti keluarga besar. Aku bersyukur menemukan kembali buku-buku bagus, menemukan buku dan penulis yang dulu terlewatkan olehku, juga wawasan perbukuan yang tak ternilai, yang membuatku semakin haus membaca dan menjadi pembaca yang terus berkembang. (dan menjadi salah satu penimbun buku seperti aku... Huahahhahaa...)


----------Akhir Kata-----------

Terima kasih mbak Bzee yang sudah memberikan guest post tips and trick kalau mau baca di luar genre yang biasa diminati. Memang terkadang agak susah untuk keluar dari zona nyaman, padahal banyak buku dengan genre lain yang bagus. Tapi sekali-sekali memang harus dicoba karena siapa tahu kamu bisa menemukan gem di genre lain :)

Oke deh, sekian guest posting dari mbak Bzee. Sampai jumpa di lain kesempatan ya, Mbak. Buat yang lainnya, jangan lupa ya baca guest posts di blog lainnya ^^

3 comments:

  1. Hmmm...kalau aku, sebelum mendokumentasikan apa yang kubaca lewat blogging, aku malah ga pilih-pilih mau baca genre apa. Semuanya dilahap. Tapi setelah punya blog buku, aku baru nyadar kalau genre favoritku adalah fantasi dan sama seperti Bzee, aku juga menghindari romance *eh* tapi dengan alasan yang berbeda tentunya *ngelessupayatidakdikeplakPhie* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apaaahhh? Kenapa? Ada apa dengan genre romance? Hahahahahha...
      Senangnya kalau bisa menemukan genre favorit :)

      Delete
    2. Justru karena awalnya ga pilih2 jadi gampang mengenali sejak awal.. :)

      Delete