Jojo Moyes - Me Before You

Judul : Me Before You
Penulis : Jojo Moyes
Halaman : 480
Genre : Contemporary Romance

Penerbit : Penguin Group
Tanggal terbit : Januari 2012
Harga : SGD 7

Tipe buku : Paperback
Status buku : Punya
Periode baca : 13-14 Desember 2013

Lou Clark knows lots of things. She knows how many footsteps there are between the bus stop and home. She knows she likes working in The Buttered Bun tea shop and she knows she might not love her boyfriend Patrick.

What Lou doesn't know is she's about to lose her job or that knowing what's coming is what keeps her sane.
Will Traynor knows his motorcycle accident took away his desire to live. He knows everything feels very small and rather joyless now and he knows exactly how he's going to put a stop to that.

What Will doesn't know is that Lou is about to burst into his world in a riot of colour. And neither of them knows they're going to change the other for all time.

Sampai sekarang aku masih agak sulit untuk menulis reviewnya tanpa merasa tercekat. Kalau diingat-ingat lagi ceritanya, rasanya sesak banget. Huhuhuhu... Tapi aku akan berusaha untuk mereview buku ini sebisaku :)

Pertama-tama, aku akan memberikan warning terlebih dahulu. Kamu gak suka sad ending, jauhkan buku ini dari hadapanmu. Suka cerita yang penuh tawa dan menyenangkan, jangan pernah baca buku ini. Mengharapkan karakter yang sempurna, jangan sentuh buku ini juga. Hahahahaha...

Oh ya, mungkin reviewku akan mengandung spoiler. Dan mungkin aku akan menyelipkan beberapa pendapatku terkait cerita ini kalau dipandang dari realita kehidupan dari sisiku.

Sebelum membaca novel ini, aku sudah membaca beberapa review yang mengatakan bahwa ending-nya tidak membahagiakan. Menurutku, yang menentukan berakhir bahagia atau tidak adalah dari pembacanya sendiri mengambil sudut pandang dari mana.

Lou dan Will bertemu karena ibu Will mencari seorang penjaga selama 6 bulan. Enam bulan adalah waktu yang diberikan Will kepada keluarganya sebelum pria ini pergi ke Swiss menemui sebuah tempat bernama Dignitas untuk mengakhiri nyawanya.

FYI, Dignitas ini benar ada di Swiss. Mereka adalah sebuah kelompok yang membantu orang-orang yang menderita parah dan sakit jiwa untuk meninggal. Mereka memiliki dokter dan suster yang teruji. Aku baru tahu kalau di dunia ini ada yang seperti ini. Membantu seseorang untuk melakukan euthanasia.

Kenapa Will ingin bunuh diri? Karena dia menderita quadriplegic, dia tidak dapat merasakan dari leher ke bawah. Jari tangannya pun sangat minim sekali dapat digerakkan. Will merasa tubuhnya adalah penjaranya. Buat apa dia hidup kalau seumur hidup dia bergantung pada orang lain. Dapat terserang penyakit apapun, belum lagi tekanan batin yang ia rasakan.

Well, aku kalau jadi Will juga akan merasa seperti itu. Buat apa hidup kalau gak bisa melakukan sesuatu. Yang ada aku menyusahkan orang lain, mengambil waktu orang lain untuk mengurusku, belum lagi tatapan simpati dari orang lain.

Lalu bertemulah Will dengan Lou. Awalnya mereka tidak berbicara sama sekali sampai akhirnya mereka saling sindir-sindiran gitu. Terus jadi dekat deh. Dan aku mulai berasa sesak pas bagian ini:
"I just... want to be a man who has been to a concert with a girl in a red dress. Just for a few minutes more." ~p. 216
Mataku langsung berkaca-kaca. Hiks. Sakit banget ini hati rasanya. Langsung 'nyuuutttt' gitu.

Bersama Will, Lou melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Hal-hal yang membuatnya bahagia, membuatnya memiliki masa depan, dan perlahan tapi pasti, Lou jatuh cinta pada Will. Akankah cinta cukup untuk membuat Will memikirkan kembali rencana bunuh dirinya?
“I kissed him, trying to bring him back. I kissed him and let my lips rest against his so that our breath mingled and the tears from my eyes became salt on his skin, and I told myself that, somewhere, tiny particles of him would become tiny particles of me, ingested, swallowed, alive, perpetual. I wanted to press every bit of me against him. I wanted to will something into him. I wanted to give him every bit of life I felt and force him to live.”

Ahhhh... Me Before You, buku yang entah kapan akan aku re-read. Hati ini masih pecah berkeping-keping. Tenggorokan masih tercekat. Tiga bab terakhir sukses membuatku menangis terus.
“Push yourself. Don’t settle. Wear those stripy legs with pride. And if you insist on settling down with some ridiculous bloke, make sure some of this is squirreled away somewhere. Knowing you still have possibilities is a luxury. Knowing I might have given them to you has alleviated something for me.”
Ya kan? Gimana aku gak nangis? Walaupun gak bisa melakukan sesuatu untuk Lou, Will memikirkan wanita itu dan bagaimana caranya agar Lou hidup to the fullest. Baca buku ini rasanya hati ini disobek-sobek, ditusuk-tusuk pakai pisau tumpul.

By the way, Jojo Moyes menulis buku ini juga karena terinspirasi kisah nyata dari Daniel James, seorang pemain rugby yang memutuskan mengakhiri hidupnya di Dignitas. Entahlah, mungkin bagi beberapa orang, mengakhiri hidup adalah suatu hal yang bertentangan dengan moral. Tapi di buku ini, aku diajak untuk melihat dari sisi penderitanya dan aku speechless.

Aku merasa bahwa semua orang berhak untuk memilih untuk mati setelah membaca buku ini. Huffftttt...

Overall, aku berharap aku tidak pernah membaca buku ini karena hatiku masih sakit banget. Tapi aku juga bersyukur membaca buku ini karena mengenalkanku pada karakter Lou dan Will serta Dignitas.

Oh ya, novel ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh GPU :)


6 comments:

  1. Hi phie salam kenal..
    Sebenarnya aku udah sering baca review kamu tapi baru sempet komen skrg hhehe..
    Wow 5 hearts!!!
    aku udah lama punya buku yg versi GPU tapi belum kubaca gara-gara bukunya tebel banget..
    Tapi habis baca review kamu aku jadi pengen baca deh..
    Harus nyiapin tisu satu box dulu kayaknya hhe..
    thanks yaa reviewnya ^-^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Ika. Makasih sudah berkunjung di blogku.
      Yep, novel Me Before You ini layak mendapat 5 hati. Masih keingat-ingat nih ceritanya yang menyesakkan itu =P

      Ayo segera dibaca, menurutku ceritanya bagus banget. Aku kurang tahu sih kalau versi terjemahannya. Tapi GPU dapat dipercaya kok kualitasnya :)

      Delete
  2. Pernah liat film india hritik rishan and aishwarya ray.... persis kayak gitu. Tapi karena permintaannya untu euthansia ditolak pengadilan, akhirnya dia menikah dengan yang merawat dia and pas malam pertama.... istrinya membantu dia untuk membunuh dirinya sendiri. Case nya sama.... hanya berfungsi leher ke atas. Kasian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh.. Sedih banget T_T
      Tapi cerita Jeffrey Deaver ada yang kena penyakit ini. Tapi karakternya malah jadi solving murder gitu. Hahahha..

      Delete
  3. Seneng banget baru nemu buku ini di olshop dengan harga miring karena second... siap2 tisuue ya kak ^^

    ReplyDelete
  4. Sudah diterjemahkan memang, tapi harganya masih mahal >.<

    ReplyDelete