Margaret Mitchell - Gone with The Wind [Part 2]

Judul : Gone with The Wind
Sub Judul : Lalu Bersama Angin
Penulis : Margaret Mitchell
Tahun Terbit : 2002
Penerbit : Gramedia
Halaman : 1124
Genre : Historical Romance

PART TWO
Scarlett O'Hara kini tinggal di kota Atlanta bersama Melanie dan Bibi Pittypat. Scarlet benci menjadi seorang janda, dia hanya boleh memakai pakaian berkabung, tidak dapat berdansa, tidak boleh bersenang-senang, tidak boleh tertawa, dan semua hal lainnya yang tak dapat dilakukannya karena dia sudah menikah dan suaminya meninggal.

Perang yang terjadi juga membuatnya diminta untuk menjadi sukarelawan. Merawat tentara-tentara yang terluka. Menghibur mereka. Menenangkan mereka.

Bukan kehidupan yang diinginkan Scarlett, dia sudah hampir mencapai ambang batas kebosanan sampai Rhett Butler muncul di kota itu dan membebaskan dirinya. Rhett berdansa dengannya, memberikannya hadiah, mengambil hati bibinya dan Melanie, bahkan membuat penduduk Atlanta (terutama para wanita) memujanya.

Namun ketika pria itu secara blak-blakan mengutarakan pendapatnya mengenai perang dan menyulut perasaan tak senang dari penduduk Atlanta, pintu-pintu rumah Atlanta kembali tertutup untuk Rhett. Di satu pihak, Scarlett membenci sikap Rhett, tapi di pihak lain, Scarlett juga mengagumi keterusterangan pria itu. Kini, hanya pintu rumahnya lah yang terbuka bagi pria itu ketika Rhett berada di Atlanta.

Kebahagiaan Scarlett selain karena perhatian Rhett selama ini semakin menjadi-jadi ketika mendengar bahwa Ashley Wilkes akan datang menghabiskan natal di Atlanta. Scarlett harus menemukan waktu di mana dia dapat berduaan saja dengan pria itu dan mengenang masa lalunya bersama Ashley...

Dengan ini saya menyatakan bahwa di bagian kedua, Scarlett O'Hara masih menjadi wanita paling menyebalkan nomor satu dari semua novel historical romance yang aku baca. Frustrasi deh sama karakter satu ini.

Satu, bisa-bisanya dia mengabaikan Wade, anaknya, darah dagingnya kepada pembantunya. Jangan harap deh si Scarlett mau gendong atau bahkan melihat anaknya. Bahkan di bagian dua ini, Wade tuh cuma disebutkan sekali.

Dua, Scarlett adalah wanita super tolol yang jatuh cinta kepada pria yang bahkan tak memiliki keberanian untuk balas mencintai Scarlett. Kapan kamu membuka matamu, Sayang?

Tiga, dia memberikan hadiah kepada Ashley dengan menggunakan barang pemberian Rhett. Please deh! Kok gak menghargai pemberian orang banget sih?

Empat, aku paling benci sama wanita yang memanfaatkan pria lain, dalam bagian ini, Rhett dimanfaatkan oleh Scarlett.

Lima, aku heran deh sama Scarlett, jelas-jelas dia gak suka sama Melanie, kok dia betah saja tinggal satu atap bersama wanita itu?

Yah intinya, Scarlett itu bodoh. Yah cinta memang buta, tapi gak sebuta itu juga kali, Scarlett. Grrrr...

Satu hal yang aku pelajari dari bagian dua ini adalah perang itu kejam, merenggut semua hal yang disayangi, mengambil semua kenyamanan dan kebebasan orang-orang yang terlibat dalam perang itu. Hhhh.... Semoga kejadian di masa itu tidak terjadi di masa ini.

Di bagian ini juga persamaan dan perbedaan karakter Ashley dan Rhett sebagai tokoh pria dominan dalam cerita ini terlihat cukup jelas. Keduanya tak menyukai perang, keduanya terkena dampak perang. Namun, yang satu maju ke medan perang walaupun tak ingin, yang satu lagi memandang ke depan dan melihat apa yang dapat diperolehnya dari perang.

Rehat bentar, bersihin hati dan pikiran dari kekesalan terhadap bintang utama buku ini sebelum melanjutkan bagian tiga. Huffftttt...

9 comments:

  1. liat review buku ini dimana-mana jadi penasaran ma bukunya

    masalah yang bikin aku gak tertarik ma bukunya, adalah covernya --"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kalo aku yang jadi masalahnya itu tebalnya. Amponnnnn.. Hahahahahaha..
      Covernya ditutupin aja ama bungkus kado =P

      Delete
    2. Aku juga ga minat begitu ngeliat gambar cowoknya... coba mirip cowok2 di harlequin

      Delete
  2. "Dengan ini saya menyatakan bahwa di bagian kedua, Scarlett O'Hara masih menjadi wanita paling menyebalkan nomor satu dari semua novel historical romance yang aku baca.." << Hahahah...betuuul! Tapi coba terusin ke Part 3 deh, di situ Scarlett lebih dewasa (meski selfish-nya tetep ada).

    Dan tentang kesamaan Rhett-Ashley, aku lebih suka Ashley karena sikapnya yg gentleman, tetap membela Konfederasi walau tidak setuju dgn perang, ketimbang Rhett yang oportunis (paling benci orang oportunis!)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku tim Rhett. Haahahahah..
      Dia pragmatis oportunis sejati.
      Ashley harusnya kalo gak setuju harusnya menyuarakan pikirannya. Jangan ngikutin arus gitu aja walaupun hatinya gak senang. Kalo Rhett kan sampai menyuarakan apa pendapat dia tentang perang, Ashley nggak. Aku menyayangkan di situ, gak ada perjuangan pemberontakan melawan perang dari sisi Ashley.
      >> ini apa akunya yang pembangkang ya? Hahahahahah..

      Delete
  3. Nah, itu dia yang menarik. Perang memang serba salah. Di satu sisi kita ga mau perang terjadi, di sisi lain kita juga ga bisa diam saja kalau perang sudah terlanjur terjadi. Menurutku pendapat di atas ada benarnya juga, yah tergantung sifat masing2 orang, kembali lagi ke perbedaan latar belakang Rhett & Ashley

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Sejauh ini masa lalu Rhett blom terungkap (ya iya lah, aku blom baca part selanjutnya). Kalo gak salah si Scarlett pernah bilang kalo Rhett itu menutupi sesuatu dari masa lalunya. Hmmmm..

      Delete
  4. Sebenernya agak kagum sama Scarlett, tahan aja hidup seatap sama Melanie! Entah bener-bener udah eneg dengan kehidupan menjanda di Tara ato sedikit berharap bisa stalking Ashley via Melanie. Hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya sih gara-gara ada Ashley. Kesempatan dia bertemu Ashley lebih gede kalau dia sama-sama Melanie.
      Tapi tetep sih, betah banget dia... Aku sih mending jauh-jauh deh =P

      Delete